Selasa, 01 September 2015

Bab 1

Mintalah Sesuatu Pada Sang Dewa



11 November 2010, Klenteng
            Kau berdiri tepat di depan sebuah patung Budha berwajah empat. Patung itu sangatlah besar dan tinggi, berlapis emas. Memiliki empat sisi wajah, depan, belakang, kiri dan kanan. Semua sisi memiliki arti tersendiri di mana setiap sisi mengikuti arah mata angin. Dan kau ada dibawah tepat patung Budha tersebut. Yang diam membisu. Sama bisunya seperti dirimu di masa lampau, ketika kau adalah Ming. Ya, Ming yang berkelana dari masa ke masa, menuju jasad baru untuk kemudian menyelesaikan tugas-tugasnya di dunia. Pada cerita cintanya yang telah kandas. Sebelumnya, tak terbesit sekalipun di dalam pikiranmu untuk mendatang sebuah kuil, klenteng dan menemui Budha. Kau membantu Ming untuk menemukan belahan jiwanya.

            Ming.
            Mencari sang jenderal yang telah lama menghilang. Ming, seorang gadis Mongolia di mana ia sangat mencintai sang jenderal.
            Kau berdiri tepat di depan sebuah patung Budha. Dan kau pun mengepalkan jemarimu seraya berdoa. Kau pejamkan mata rapat-rapat, mencoba untuk masuk ke dalam ruang batin agar bisa menembus dinding Sang Budha.


            “Budha, satukanlah cintaku dengan kakak Cing. Aku sangat mencintainya, satukanlah aku dengan dia.” katamu dengan kusyuknya. Kau berusaha menembus dinding-dinding kebatinan. Selang beberapa saat kau membuka matamu dan menatap wajah Sang Budha seraya tersenyum tipis sebelum akhirnya kau memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan mendatangi sebuah klenteng Dewi Kwan Im. Ada yang hendak kau temui di dalam sana. Mungkin, bertemu dengan dewa Yue Lao Gong[1]. Kau juga ingin meminta sesuatu padanya, agar disatukan tali ikatan cinta yang terputus di tengah jalan. Hanya membutuhkan waktu tak kurang dari sepuluh menit agar kau cepat sampai ke depan. Ya, tinggal menyeberang saja. Tempat ibadah yang terpisah namun tetap sejalur.


            Langkahmu kemudian terhenti tepat di depan klenteng itu. Ada sedikit keraguan saat akan menginjakkan kaki  ke dalam sana. Apalagi ia sendirian. Seharusnya ia tidak sendiri. Harusnya ia mengajak teman agar tidak dianggap ‘orang aneh yang sedang galau’. Kau hanya ingin meminta sesuatu pada sang dewa jodoh. Itu saja. Setelah selesai, kau bisa pulang dengan senyuman dan membawa pulang setitik harapan. Yang entah, terwujud atau tidak.

            “Kak Cing, di masa kini kau menjadi siapa dan adalah siapa?” katamu bergumam sendiri. Sebenarnya, kau sedang kebingungan lantaran seminggu sebelumnya kau baru saja dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar ‘baru’ bagimu. Di mana kau sama sekali tidak pernah mengenalnya. Ya, sore itu. Ketika kau bertemu dengan dia.
[…]


[1] Orangtua dari bulan. Dewa perjodohan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar