11 November 2010, Klenteng
Kau berdiri tepat di depan sebuah
patung Budha berwajah empat. Patung itu sangatlah besar dan tinggi, berlapis
emas. Memiliki empat sisi wajah, depan, belakang, kiri dan kanan. Semua sisi
memiliki arti tersendiri di mana setiap sisi mengikuti arah mata angin. Dan kau
ada dibawah tepat patung Budha tersebut. Yang diam membisu. Sama bisunya
seperti dirimu di masa lampau, ketika kau adalah Ming. Ya, Ming yang berkelana
dari masa ke masa, menuju jasad baru untuk kemudian menyelesaikan
tugas-tugasnya di dunia. Pada cerita cintanya yang telah kandas. Sebelumnya,
tak terbesit sekalipun di dalam pikiranmu untuk mendatang sebuah kuil, klenteng
dan menemui Budha. Kau membantu Ming untuk menemukan belahan jiwanya.
Ming.
Mencari
sang jenderal yang telah lama menghilang. Ming, seorang gadis Mongolia di mana
ia sangat mencintai sang jenderal.
Kau
berdiri tepat di depan sebuah patung Budha. Dan kau pun mengepalkan jemarimu
seraya berdoa. Kau pejamkan mata rapat-rapat, mencoba untuk masuk ke dalam
ruang batin agar bisa menembus dinding Sang Budha.
“Budha,
satukanlah cintaku dengan kakak Cing. Aku sangat mencintainya, satukanlah aku
dengan dia.” katamu dengan kusyuknya. Kau berusaha menembus dinding-dinding
kebatinan. Selang beberapa saat kau membuka matamu dan menatap wajah Sang Budha
seraya tersenyum tipis sebelum akhirnya kau memutuskan untuk meninggalkan tempat
itu dan mendatangi sebuah klenteng Dewi Kwan Im. Ada yang hendak kau temui di
dalam sana. Mungkin, bertemu dengan dewa Yue
Lao Gong[1]. Kau juga ingin
meminta sesuatu padanya, agar disatukan tali ikatan cinta yang terputus di
tengah jalan. Hanya membutuhkan waktu tak kurang dari sepuluh menit agar kau
cepat sampai ke depan. Ya, tinggal menyeberang saja. Tempat ibadah yang
terpisah namun tetap sejalur.
Langkahmu
kemudian terhenti tepat di depan klenteng itu. Ada sedikit keraguan saat akan
menginjakkan kaki ke dalam sana. Apalagi
ia sendirian. Seharusnya ia tidak sendiri. Harusnya ia mengajak teman agar
tidak dianggap ‘orang aneh yang sedang galau’. Kau hanya ingin meminta sesuatu
pada sang dewa jodoh. Itu saja. Setelah selesai, kau bisa pulang dengan
senyuman dan membawa pulang setitik harapan. Yang entah, terwujud atau tidak.
“Kak
Cing, di masa kini kau menjadi siapa dan adalah siapa?” katamu bergumam
sendiri. Sebenarnya, kau sedang kebingungan lantaran seminggu sebelumnya kau
baru saja dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar ‘baru’ bagimu. Di mana
kau sama sekali tidak pernah mengenalnya. Ya, sore itu. Ketika kau bertemu
dengan dia.
[…]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar